Dalam
salah satu tulisannya yang berjudul “Signs Taken for Wonders”,[1]
Bhaba menjelaskan bahwa segala permasalahan ataupun pembahasan yang berkaitan
dengan masalah kolonial selalu bersifat ambivalen atau kontradiktif. Baik dalam
hal munculnya transparansi yang pada akhirnya menimbulkan adanya pembedaan
ruang, kedudukan dan kadar pengetahuan antara satu dengan yang lain, atau
bahkan dalam terbentuknya sebuah hibriditas yang nantinya menyebabkan adanya
distorsi dalam rangkaian proses wacana kolonial yang ada. Walaupun demikian,
cakupan pembahasan yang telah disajikan oleh Bhabha nampak begitu
luas—cenderung berkaitan dengan sebuah komunitas—sehingga terlihat tidak
memberikan perhatian yang selaras terhadap individu-individu pembangun
masyarakat yang sama. Selain daripada itu, merujuk kepada anggapan yang telah
disampaikan Bhabha bahwa “The discovery
of the book…is, as well, a process of displacement” (penemuan buku adalah
juga merupakan sebuah proses pemindahan),[2] terdapat
sebuah keterkaitan antara buku—atau literatur; tulisan—dengan proses
perpindahan atau perubahan tempat
yang menimbulkan suatu distorsi lain ketika tulisan tersebut diulang,
diterjemahkan, dan di salah artikan. Bisa dikatakan, buku ataupun tulisan
merupakan salah satu media ataupun pemicu munculnya ambivalensi-ambivalensi
dalam masyarakat dan wacana kolonial. Maka dari itu, dengan pemahaman akan
adanya kaitan tulisan dengan ambivalensi dalam wacana kolonial tersebut, saya akan
coba untuk memusatkan penelitian saya terhadap gejala-gejala wacana ambivalensi
yang disajikan dalam karya-karya milik Derek Walcott.
Derek
Walcott bisa dianggap sebagai salah satu penyair, penulis naskah drama, dan
penulis secara yang menarik, terutama dalam hal berbagai rintangan yang harus
dihadapinya saat mengkonstruksi tulisan, sair ataupun naskah drama yang mampu
untuk menggambarkan kebudayaan Karibia yang dimilikinya; kebudayaan Dunia Baru.[3] Rintangan
yang mungkin sudah, sedang ataupun akan dihadapi oleh Walcott dalam usahanya
tersebut tidak hanya berkaitan dengan bagaimana cara menyampaikan latar belakang budaya yang dia miliki, akan tetapi
juga bagaimana cara menyelaraskan beberapa pengaruh budaya berbeda yang dia
juga miliki kedalam tulisan-tulisan yang dia buat. Pengaruh budaya yang
berwarna Amerika—tanpa ada kaitannya dengan hal yang berbau genetis atau
rasial—bukanlah satu-satunya rekan yang memberikan opini ataupun bantuan dalam perjalanan literatur-nya, namun juga
pengaruh budaya Inggris—atau Eropa.
Lewat
beberapa kumpulan puisi yang telah diselesaikan, Walcott menunjukan berbagai macam
sisi dan variasi dalam meramu larik-larik yang sebagian besar menggambarkan kisah-kisah
perjalanan, atau panoramik melalui puisi berbentuk naratif. Walaupun demikian, pemilihan
dan pengaturan rima—yang biasa dianggap sebagai hal yang dicari pada sebuah puisi—dalam setiap sajak yang di tuliskan
Walcott bukan menjadi kelebihan utama yang disajikan, dan keadaan tersebut
menandakan bahwa sebagian besar puisi karya Walcott ini merupakan puisi dengan
bentukan terbuka atau bebas (open form).
Menurut penggambaran yang dijabarkan Kennedy dan Gioia dalam “An Introduction
to Poetry”,[4]
para penyair yang menggunakan bentukan bebas atau open form dalam menyajikan puisi-puisinya cenderung mengendepankan
hal-hal lain selain pengaturan formal yang biasanya diharapkan banyak pembaca
untuk muncul dalam sebuah puisi; seperti rima, aturan meter, dsb. Selain itu,
Kennedy dan Gioia mengatakan bahwa “Some
open form poets offer a historical motive: they want to reflect the nervous,
staccato, disconnected pace of our bumper to bumper society” (Beberapa
penyair yang menggunakan bentukan terbuka menyajikan sebuah motif historis:
mereka ingin menggambarkan langkah yang cemas, staccato, dan terputus dalam masyarakat kita yang saling
bertabrakan),[5]
dan anggapan tersebut menunjukan bahwa terdapat hal-hal lain yang ingin
ditunjukan oleh Walcott berkaitan dengan motif historis yang dia miliki. Akan
tetapi, keadaan ini tidak menutup kemungkinan akan adanya penggunaan rima,
aturan meter, ataupun manipulasi bentuk puisi lain dalam karya Walcott yang
ada, walaupun penggunaan manipulasi tersebut tentunya memiliki maksud lain
selaras dengan motif historis yang menjadi salah satu landasan utama konstruksi
puisi Walcott itu sendiri.
Dalam
salah satu puisi Walcott yang berjudul “A City’s Death by Fire” (1962),[6] setiap
baitnya mencoba menggambarkan kekacauan dan kegelisahan yang terjadi di sebuah
kota yang telah hancur oleh api.
Puisi ini bisa dikatakan sebagai sebuah puisi naratif yang disajikan oleh
seorang pembicara dengan cakupan sudut pandang yang bervariatif; baik dalam
sudut pandangan yang khusus (subjektif) ataupun secara umum (objektif). Adanya
rujukan-rujukan yang diberikan oleh pembicara terhadap berbagai istilah yang
berkaitan dengan nilai-nilai keagamaan seperti gospeller, churched, Christ, blessing, dan baptism mengimplikasikan adanya dan eratnya kaitan teologis dengan bencana
hancurnya kota yang ada. Selain daripada itu, adanya ujaran seperti rubbled tales, sebagai metafora bagi
kota yang telah hancur, yang memberikan impikasi akan pentingnya kisah atau tales dalam rangkaian kejadian yang ada,
menunjukan pentingnya aspek-aspek yang bersifat historis dalam sususan puisi
tersebut. Pada larik yang berbunyi “…wall
that stood on the street like a liar” (tembok yang berdiri di jalanan
seperti seorang pembohong),[7]
pembicara nampak berusaha untuk menunjukan kekesalan yang sangat terhadap
sisa-sisa reruntuhan, sisa-sisa tembok rumah, dimana gambaran tersebut membuat
suatu implikasi bahwa reruntuhan yang tersisa tidaklah memiliki arti yang bisa
menyangkal keadaan bahwa kota tersebut telah benar-benar hancur. Namun
demikian, dalam dua larik terakhir dari puisi tersebut yang berbunyi “Rebuilding a love I thought was dead as
nails, Blessing the death and the baptism by fire” (Membangun kembali cinta
yang saya kira sudah mati seperti kuku, Memberikan restu kepada kematian dan
pembaptisan dengan api),[8] kekesalan
dan kesedihan yang dialami oleh pembicara yang digambarkan dalam bait-bait
sebelumnya nampak memudar dan berubah menjadi sebuah sikap ketabahan terhadap
bencana dan permasalahan yang terjadi.
Adanya
perubahan tanggapan pembicara terhadap kejadian yang di gambarkan dalam puisi
tersebut menunjukan adanya dua jenis opini dimana di satu sisi terdapat rasa
kekesalan dan kekecewaan dan di sisi yang lain terdapat rasa ketabahan dan
sikap penerimaan terhadap bencana yang ada. Perubahan yang terjadi nampak
seperti sebuah manifestasi dari bergabungnya dua ranah tanggapan yang berbeda
(subjektif dan objektif) menjadi sebuah keadaan dimana pada akhirnya salah satu
opini tersebut harus di leburkan dan menjadi tidak penting dibandingkan dengan
opini yang lain. Merujuk kepada tulisan Homi K. Bhabha yang berjudul “The World
and the Home” (1992) yang menjelaskan bahwa “The
unhomely moment relates the traumatic ambivalences of a personal, psychic
history, to the wider disjunctions of political existences” (keadaan unhomely menghubungkan
ambivalensi-ambivalensi traumatis dari sejarah psikologis pribadi dengan disjungsi
yang lebih luas tentang eksistensi politis),[9] unhomeliness adalah sebuah keadaan
dimana batas antar hal yang bersifat pribadi dan publik memudar yang
menimbulkan interaksi yang ambivalen antara kedua aspek yang ada. Hilangnya
batas antara hal yang bersifat pribadi dan yang bersifat publik di satu sisi
memunculkan sebuah ilusi bahwa akan ada kemungkinan dimana kedua pihak yang
berbeda tersebut dapat bertemu dalam suatu titik yang setara. Walaupun
demikian, keadaan tersebut juga dapat menimbulkan sebuah proses alienasi
terhadap salah satu pihak yang bersangkutan. Melihat kembali permasalahan
kontradiktif antara dua jenis tanggapan yang disajikan terhadap bencana
hancurnya perkotaan yang disajikan dalam puisi “A City’s Death by Fire” diatas,
terdapat sebuah gejala unhomeliness
yang nampak dalam pengujaran yang disampaikan oleh pembicara dimana anggapan
pribadi, atau subjektif, yang dia tampilkan (kekesalan dan kekecewaan terhadap
hancurnya perkotaan) pada akhirnya, dan pada akhir puisi tersebut, harus di
redam sebagai akibat dari sikap ketabahan yang ditunjukan oleh pihak-pihak
lain—digambarkan oleh kepolosan “a boy”
yang masih berusaha untuk membangun kembali dan menerima bencana yang ada
sebagai sebuah anugrah—terhadap
kejadian yang sama.
Berlanjut
ke puisi Derek Walcott lain dengan judul “As John to Patmos”,[10]
setiap larik dari puisi ini berisikan penggambaran perjalanan seseorang yang
disajikan oleh seorang pembicara melalui dua jenis sudut pandang yang berbeda;
(1) sudut pandang orang pertama yang diperuntukan dalam penjabaran mengenai
perjalanan yang dialami oleh pembicara; dan, (2) sudut pandang orang ketiga
ketika sang pembicara memberikan rujukan terhadap kisah lain tentang John baik
secara langsung ataupun melalui simile. Perbedaan sudut pandang ini tidak hanya
berfungsi sebagai media pembantu dalam memperluas penggambaran puisi yang ada
tapi juga memperlihatkan adanya nilai ketergantungan dari pembicara terhadap
kisah John yang menjadi rujukan utama dalam penjelasan yang pembicara berikan
mengenai cerita perjalanan yang dia alami. Keadaan tersebut juga
mengindikasikan bahwa terdapat sebuah relasi antara pembicara dengan sosok John
yang diceritakan oleh pembicara, bukan John yang berbicara sebagai dirinya
sendiri. Walaupun demikian, ikatan yang nampak terlihat memudar ketika
pembicara, melalui sudut pandang orang pertama, menjelaskan keindahan dan kelebihan yang dimiliki oleh pulau
tempat dimana dia tinggal. Berbeda dengan ketika dia menjabarkan perjalanan
yang dia alami sembari merujuk kepada John melalui sudut pandang orang ketiga
dan majas simile. Gejala ambivalensi yang terlihat dalam puisi ini berkaitan
dengan adanya kontradiksi atau distorsi konsistensi dalam penjabaran kejadian
ataupun penggambaran yang disajikan oleh pembicara. Keadaan tersebut bisa
dikaitkan dengan masalah censorship
dimana distorsi yang ada dalam penjabaran kejadian tersebut merupakan
manifestasi pembatasan sudut pandang di dalam puisi ini. Selain daripada itu,
permasalahan kolonial—yang berkaitan erat dengan munculnya ambivalensi—yang
dianggap menjadi salah satu landasan ataupun motif historis Derek Walcott dalam
menyalurkan gagasan-gagasannya juga menjadi penting karena hal tersebut
bersifat rentan terhadap permasalahan censorship.[11]
Melihat penjabaran yang di sampaikan oleh J. M. Coetzee,[12] Censorship itu sendiri muncul akibat
adanya nilai ketersinggungan atau juga bisa disebut sebagai ancaman. Dalam
konteks permasalahan kolonial, kontradiksi-kontradiksi yang mulai bermunculan membuat
pihak yang dinilai lebih memiliki kuasa
cenderung bersifat sensitif terhadap segala hal yang dapat membahayakan
pengaruh mereka dalam mengatur dan menjaga dominasi
mereka terhadap pihak lain yang lebih tidak diuntungkan dan juga lebih tidak
beruntung, dan proses censorship pun
dilakukan dengan tujuan untuk meredam ancaman yang ada sehingga pihak tersebut
dapat tetap menjaga kelangsungannya dalam masyarakat yang bersangkutan.
Walaupun
demikian, dalam prosesnya censorship
tidak selalu berasal dari pihak yang berkuasa, akan tetapi proses sensor ini
bisa muncul dari pihak lain yang dianggap tidak berkuasa, atau pihak yang dianggap sebagai ancaman oleh pihak yang
lebih berkuasa. Salah satu bentuk aplikasi censorship
yang berbeda ini adalah dengan adanya filter
dalam narasi dimana filter tersebut mampu untuk merubah kesadaran tokoh menjadi
sebuah layar yang menggambarkan kejadian dan cerita yang tokoh itu ceritakan
ataupun alami dengan kriteria khusus sehingga tidak semua hal bisa melewati
layar tersebut dengan mudahnya.[13]
Hal yang sama nampak dalam proses penjabaran pembicara dalam puisi “As John to
Patmos” dimana adanya dua jenis sudut pandang yang digunakan oleh pembicara
mengindikasikan adanya dua filter berbeda yang digunakan dalam menjelaskan
sebuah cerita yang sama. Keadaan ini memberikan sebuah jarak yang jauh antara pembicara dengan kisah atau perjalanan yang
dialami oleh John, namun hal tersebut juga mendekatkan jarak antara pembicara
dengan pulau tempat dimana dia tinggal. Gejala ini mengindikasikan bahwa sang
pembicara hanya mampu untuk memberikan tanggapan subjektif mengenai keindahan
ataupun hal-hal menarik yang ada di pulau yang dia tinggali, akan tetapi dia
tidak mampu untuk memberika penggambaran yang setara mengenai perjalanan yang
dia alami.
Dua
puisi diatas merupakan sebagian kecil dari karya-karya Derek Walcott yang
menjadi sorotan utama dalam penelitian yang akan saya usung. Selain daripada
kumpulan-kumpulan puisi yang dia pernah buat, beberapa kumpulan drama dan juga
essay yang ditulis oleh Walcott pun akan menjadi bagian dari objek yang akan
saya teliti nantinya. Sebagaimana yang telah menjadi bahan pembahasan dalam
beberapa paragraph sebelumnya, masalah yang berkaitan dengan wacana kolonial
dan ambivalensi sudah dipastikan akan menjadi topic utama yang akan saya
kembangkan dalam penelitian ini. Namun, saya masih mengalami kesulitan dalam
mengembangkan dan menambahkan gagasan-gagasan tambahan, seperti censorship atau unhomeliness, untuk membantu penjabaran topik utama yang saya
pilih, serta dalam melakukan pendekatan terhadap karya-karya Walcott itu
sendiri karena banyaknya jenis karya yang akan saya hadapi—mulai dari puisi
hingga essay. Walaupun demikian, setidaknya, saya sudah memiliki gambaran
tentang gejala apa yang akan saya cari dan bahas dalam setiap karya yang akan
saya temui nanti.
Daftar Pustaka
Adipurwawidjana, Ari J.; Amalia, Lien,
and Manggong, Lestari. 2005. “Ambivalensi Naratif dan Transisi Sosial: Lady Chatterley’s Lover dan The Satanic Verses” dalam Kalam (Vol. 22, 2005; hal. 55-79) ed.
Supartono, Alex, et al. Indonesia: Yayasan Kalam
Bhabha, Homi K. 1992. “The World and the
Home” dalam Social Text (No. 31/32,
Third World and Post-Colonial Issues; hal. 141-153). Amerika Serikat: Duke University
Press retrieved from http://www.jstor.org/stable/466222
1994.
“Signs Taken for Wonders: Questions of Ambivalence and authority under a tree
outside Delhi, May 1817” dalam The
Location of Culture (hal. 102-122). NewYork: Routledge.
Chatman, Seymour. 1993. Reading Narrative Fiction. New York, Amerika
Serikat: Macmillan Publishing Company.
Coetzee, J.M. 1996. Giving Offense: Essays on Censorship.
United States: The University of Chicago Press
Hirsch, Edward dan Walcott,
Derek. 1979. An Interview with Derek
Walcott dalam Contemporary Literature
(Vol. 20, No. 3; hal. 279-292). Wisconsin: University of Wisconsin Press.
Kennedy, X. J., dan Gioia,
Dana. 2002. An Introduction to Poetry
(Edisi ke-10). New York: Longman.
Walcott, Derek. 1962. “As John to
Patmos” dan “A City’s Death by Fire” dari “In A Green Night” dalam Derek Walcott: Collected Poems 1948-1984
(1992; hal. 5 & 6). Great Britain: Faber and Faber Limited.
[1] Homi K. Bhabha, The Location of Culture, (New York:
Routledge, 1994), 102-122.
[2] Homi K. Bhabha, The Location of Culture, (New York:
Routledge, 1994), 102.
[3] Edward Hirsch dan Derek Walcott,
An Interview with Derek Walcott dalam
Contemporary Literature, Vol. 20, No.
3 (Wisconsin: University of Wisconsin Press, 1979), 279-292.
[4] X.J. Kennedy dan Dana Gioia, An Introduction to Poetry (Edisi ke-10,
New York: Longman, 2002).
[5] X.J. Kennedy dan Dana Gioia, An Introduction to Poetry (Edisi ke-10,
New York: Longman, 2002), 242.
[7] Derek Walcott, A City’s Death by Fire dalam Collected Poems 1948-1984, (Britania
Raya: Faber and Faber Limited, 1992), 6.
[8] Derek Walcott, A City’s Death by Fire dalam Collected Poems 1948-1984, (Britania
Raya: Faber and Faber Limited, 1992), 6.
[9] Homi K. Bhabha, The World and the Home dalam Social Text, No. 31/32, (Amerika Serikat:
Duke University Press, 1992), 144.
[11] Ari J. Adipurwawidjana, Lien
Amalia dan Lestari Manggong, Ambivalensi
Naratif dan Transisi Sosial: Lady Chatterley’s Lover dan The Satanic Verses dalam
Kalam, Vol. 22 (Indonesia: Yayasan
Kalam, 2005), 59.
[12] J. M. Coetzee, Giving Offense: Essays on Censorship, (Amerika
Serikat: The University of Chicago Press, 1996).
[13] Seymour Chatman, Reading Narrative Fiction,(New York:
Macmillan Publishing Company, 1993), 130.
No comments:
Post a Comment