Monday, February 23, 2015

Rancangan Awal Penelitian - Wacana Ambivalensi pada Karya-karya Derek Walcott

Dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Signs Taken for Wonders”,[1] Bhaba menjelaskan bahwa segala permasalahan ataupun pembahasan yang berkaitan dengan masalah kolonial selalu bersifat ambivalen atau kontradiktif. Baik dalam hal munculnya transparansi yang pada akhirnya menimbulkan adanya pembedaan ruang, kedudukan dan kadar pengetahuan antara satu dengan yang lain, atau bahkan dalam terbentuknya sebuah hibriditas yang nantinya menyebabkan adanya distorsi dalam rangkaian proses wacana kolonial yang ada. Walaupun demikian, cakupan pembahasan yang telah disajikan oleh Bhabha nampak begitu luas—cenderung berkaitan dengan sebuah komunitas—sehingga terlihat tidak memberikan perhatian yang selaras terhadap individu-individu pembangun masyarakat yang sama. Selain daripada itu, merujuk kepada anggapan yang telah disampaikan Bhabha bahwa “The discovery of the book…is, as well, a process of displacement” (penemuan buku adalah juga merupakan sebuah proses pemindahan),[2] terdapat sebuah keterkaitan antara buku—atau literatur; tulisan—dengan proses perpindahan atau perubahan tempat yang menimbulkan suatu distorsi lain ketika tulisan tersebut diulang, diterjemahkan, dan di salah artikan. Bisa dikatakan, buku ataupun tulisan merupakan salah satu media ataupun pemicu munculnya ambivalensi-ambivalensi dalam masyarakat dan wacana kolonial. Maka dari itu, dengan pemahaman akan adanya kaitan tulisan dengan ambivalensi dalam wacana kolonial tersebut, saya akan coba untuk memusatkan penelitian saya terhadap gejala-gejala wacana ambivalensi yang disajikan dalam karya-karya milik Derek Walcott.  

Derek Walcott bisa dianggap sebagai salah satu penyair, penulis naskah drama, dan penulis secara yang menarik, terutama dalam hal berbagai rintangan yang harus dihadapinya saat mengkonstruksi tulisan, sair ataupun naskah drama yang mampu untuk menggambarkan kebudayaan Karibia yang dimilikinya; kebudayaan Dunia Baru.[3] Rintangan yang mungkin sudah, sedang ataupun akan dihadapi oleh Walcott dalam usahanya tersebut tidak hanya berkaitan dengan bagaimana cara menyampaikan latar belakang budaya yang dia miliki, akan tetapi juga bagaimana cara menyelaraskan beberapa pengaruh budaya berbeda yang dia juga miliki kedalam tulisan-tulisan yang dia buat. Pengaruh budaya yang berwarna Amerika—tanpa ada kaitannya dengan hal yang berbau genetis atau rasial—bukanlah satu-satunya rekan yang memberikan opini ataupun bantuan dalam perjalanan literatur-nya, namun juga pengaruh budaya Inggris—atau Eropa.   

Lewat beberapa kumpulan puisi yang telah diselesaikan, Walcott menunjukan berbagai macam sisi dan variasi dalam meramu larik-larik yang sebagian besar menggambarkan kisah-kisah perjalanan, atau panoramik melalui puisi berbentuk naratif. Walaupun demikian, pemilihan dan pengaturan rima—yang biasa dianggap sebagai hal yang dicari pada sebuah puisi—dalam setiap sajak yang di tuliskan Walcott bukan menjadi kelebihan utama yang disajikan, dan keadaan tersebut menandakan bahwa sebagian besar puisi karya Walcott ini merupakan puisi dengan bentukan terbuka atau bebas (open form). Menurut penggambaran yang dijabarkan Kennedy dan Gioia dalam “An Introduction to Poetry”,[4] para penyair yang menggunakan bentukan bebas atau open form dalam menyajikan puisi-puisinya cenderung mengendepankan hal-hal lain selain pengaturan formal yang biasanya diharapkan banyak pembaca untuk muncul dalam sebuah puisi; seperti rima, aturan meter, dsb. Selain itu, Kennedy dan Gioia mengatakan bahwa “Some open form poets offer a historical motive: they want to reflect the nervous, staccato, disconnected pace of our bumper to bumper society” (Beberapa penyair yang menggunakan bentukan terbuka menyajikan sebuah motif historis: mereka ingin menggambarkan langkah yang cemas, staccato, dan terputus dalam masyarakat kita yang saling bertabrakan),[5] dan anggapan tersebut menunjukan bahwa terdapat hal-hal lain yang ingin ditunjukan oleh Walcott berkaitan dengan motif historis yang dia miliki. Akan tetapi, keadaan ini tidak menutup kemungkinan akan adanya penggunaan rima, aturan meter, ataupun manipulasi bentuk puisi lain dalam karya Walcott yang ada, walaupun penggunaan manipulasi tersebut tentunya memiliki maksud lain selaras dengan motif historis yang menjadi salah satu landasan utama konstruksi puisi Walcott itu sendiri.

Dalam salah satu puisi Walcott yang berjudul “A City’s Death by Fire” (1962),[6] setiap baitnya mencoba menggambarkan kekacauan dan kegelisahan yang terjadi di sebuah kota yang telah hancur oleh api. Puisi ini bisa dikatakan sebagai sebuah puisi naratif yang disajikan oleh seorang pembicara dengan cakupan sudut pandang yang bervariatif; baik dalam sudut pandangan yang khusus (subjektif) ataupun secara umum (objektif). Adanya rujukan-rujukan yang diberikan oleh pembicara terhadap berbagai istilah yang berkaitan dengan nilai-nilai keagamaan seperti gospeller, churched, Christ, blessing, dan baptism mengimplikasikan adanya dan eratnya kaitan teologis dengan bencana hancurnya kota yang ada. Selain daripada itu, adanya ujaran seperti rubbled tales, sebagai metafora bagi kota yang telah hancur, yang memberikan impikasi akan pentingnya kisah atau tales dalam rangkaian kejadian yang ada, menunjukan pentingnya aspek-aspek yang bersifat historis dalam sususan puisi tersebut. Pada larik yang berbunyi “…wall that stood on the street like a liar” (tembok yang berdiri di jalanan seperti seorang pembohong),[7] pembicara nampak berusaha untuk menunjukan kekesalan yang sangat terhadap sisa-sisa reruntuhan, sisa-sisa tembok rumah, dimana gambaran tersebut membuat suatu implikasi bahwa reruntuhan yang tersisa tidaklah memiliki arti yang bisa menyangkal keadaan bahwa kota tersebut telah benar-benar hancur. Namun demikian, dalam dua larik terakhir dari puisi tersebut yang berbunyi “Rebuilding a love I thought was dead as nails, Blessing the death and the baptism by fire” (Membangun kembali cinta yang saya kira sudah mati seperti kuku, Memberikan restu kepada kematian dan pembaptisan dengan api),[8] kekesalan dan kesedihan yang dialami oleh pembicara yang digambarkan dalam bait-bait sebelumnya nampak memudar dan berubah menjadi sebuah sikap ketabahan terhadap bencana dan permasalahan yang terjadi.

Adanya perubahan tanggapan pembicara terhadap kejadian yang di gambarkan dalam puisi tersebut menunjukan adanya dua jenis opini dimana di satu sisi terdapat rasa kekesalan dan kekecewaan dan di sisi yang lain terdapat rasa ketabahan dan sikap penerimaan terhadap bencana yang ada. Perubahan yang terjadi nampak seperti sebuah manifestasi dari bergabungnya dua ranah tanggapan yang berbeda (subjektif dan objektif) menjadi sebuah keadaan dimana pada akhirnya salah satu opini tersebut harus di leburkan dan menjadi tidak penting dibandingkan dengan opini yang lain. Merujuk kepada tulisan Homi K. Bhabha yang berjudul “The World and the Home” (1992) yang menjelaskan bahwa “The unhomely moment relates the traumatic ambivalences of a personal, psychic history, to the wider disjunctions of political existences” (keadaan unhomely menghubungkan ambivalensi-ambivalensi traumatis dari sejarah psikologis pribadi dengan disjungsi yang lebih luas tentang eksistensi politis),[9] unhomeliness adalah sebuah keadaan dimana batas antar hal yang bersifat pribadi dan publik memudar yang menimbulkan interaksi yang ambivalen antara kedua aspek yang ada. Hilangnya batas antara hal yang bersifat pribadi dan yang bersifat publik di satu sisi memunculkan sebuah ilusi bahwa akan ada kemungkinan dimana kedua pihak yang berbeda tersebut dapat bertemu dalam suatu titik yang setara. Walaupun demikian, keadaan tersebut juga dapat menimbulkan sebuah proses alienasi terhadap salah satu pihak yang bersangkutan. Melihat kembali permasalahan kontradiktif antara dua jenis tanggapan yang disajikan terhadap bencana hancurnya perkotaan yang disajikan dalam puisi “A City’s Death by Fire” diatas, terdapat sebuah gejala unhomeliness yang nampak dalam pengujaran yang disampaikan oleh pembicara dimana anggapan pribadi, atau subjektif, yang dia tampilkan (kekesalan dan kekecewaan terhadap hancurnya perkotaan) pada akhirnya, dan pada akhir puisi tersebut, harus di redam sebagai akibat dari sikap ketabahan yang ditunjukan oleh pihak-pihak lain—digambarkan oleh kepolosan “a boy” yang masih berusaha untuk membangun kembali dan menerima bencana yang ada sebagai sebuah anugrah—terhadap kejadian yang sama.

Berlanjut ke puisi Derek Walcott lain dengan judul “As John to Patmos”,[10] setiap larik dari puisi ini berisikan penggambaran perjalanan seseorang yang disajikan oleh seorang pembicara melalui dua jenis sudut pandang yang berbeda; (1) sudut pandang orang pertama yang diperuntukan dalam penjabaran mengenai perjalanan yang dialami oleh pembicara; dan, (2) sudut pandang orang ketiga ketika sang pembicara memberikan rujukan terhadap kisah lain tentang John baik secara langsung ataupun melalui simile. Perbedaan sudut pandang ini tidak hanya berfungsi sebagai media pembantu dalam memperluas penggambaran puisi yang ada tapi juga memperlihatkan adanya nilai ketergantungan dari pembicara terhadap kisah John yang menjadi rujukan utama dalam penjelasan yang pembicara berikan mengenai cerita perjalanan yang dia alami. Keadaan tersebut juga mengindikasikan bahwa terdapat sebuah relasi antara pembicara dengan sosok John yang diceritakan oleh pembicara, bukan John yang berbicara sebagai dirinya sendiri. Walaupun demikian, ikatan yang nampak terlihat memudar ketika pembicara, melalui sudut pandang orang pertama, menjelaskan keindahan dan kelebihan yang dimiliki oleh pulau tempat dimana dia tinggal. Berbeda dengan ketika dia menjabarkan perjalanan yang dia alami sembari merujuk kepada John melalui sudut pandang orang ketiga dan majas simile. Gejala ambivalensi yang terlihat dalam puisi ini berkaitan dengan adanya kontradiksi atau distorsi konsistensi dalam penjabaran kejadian ataupun penggambaran yang disajikan oleh pembicara. Keadaan tersebut bisa dikaitkan dengan masalah censorship dimana distorsi yang ada dalam penjabaran kejadian tersebut merupakan manifestasi pembatasan sudut pandang di dalam puisi ini. Selain daripada itu, permasalahan kolonial—yang berkaitan erat dengan munculnya ambivalensi—yang dianggap menjadi salah satu landasan ataupun motif historis Derek Walcott dalam menyalurkan gagasan-gagasannya juga menjadi penting karena hal tersebut bersifat rentan terhadap permasalahan censorship.[11] Melihat penjabaran yang di sampaikan oleh J. M. Coetzee,[12] Censorship itu sendiri muncul akibat adanya nilai ketersinggungan atau juga bisa disebut sebagai ancaman. Dalam konteks permasalahan kolonial, kontradiksi-kontradiksi yang mulai bermunculan membuat pihak yang dinilai lebih memiliki kuasa cenderung bersifat sensitif terhadap segala hal yang dapat membahayakan pengaruh mereka dalam mengatur dan menjaga dominasi mereka terhadap pihak lain yang lebih tidak diuntungkan dan juga lebih tidak beruntung, dan proses censorship pun dilakukan dengan tujuan untuk meredam ancaman yang ada sehingga pihak tersebut dapat tetap menjaga kelangsungannya dalam masyarakat yang bersangkutan.

Walaupun demikian, dalam prosesnya censorship tidak selalu berasal dari pihak yang berkuasa, akan tetapi proses sensor ini bisa muncul dari pihak lain yang dianggap tidak berkuasa, atau pihak yang dianggap sebagai ancaman oleh pihak yang lebih berkuasa. Salah satu bentuk aplikasi censorship yang berbeda ini adalah dengan adanya filter dalam narasi dimana filter tersebut mampu untuk merubah kesadaran tokoh menjadi sebuah layar yang menggambarkan kejadian dan cerita yang tokoh itu ceritakan ataupun alami dengan kriteria khusus sehingga tidak semua hal bisa melewati layar tersebut dengan mudahnya.[13] Hal yang sama nampak dalam proses penjabaran pembicara dalam puisi “As John to Patmos” dimana adanya dua jenis sudut pandang yang digunakan oleh pembicara mengindikasikan adanya dua filter berbeda yang digunakan dalam menjelaskan sebuah cerita yang sama. Keadaan ini memberikan sebuah jarak yang jauh antara pembicara dengan kisah atau perjalanan yang dialami oleh John, namun hal tersebut juga mendekatkan jarak antara pembicara dengan pulau tempat dimana dia tinggal. Gejala ini mengindikasikan bahwa sang pembicara hanya mampu untuk memberikan tanggapan subjektif mengenai keindahan ataupun hal-hal menarik yang ada di pulau yang dia tinggali, akan tetapi dia tidak mampu untuk memberika penggambaran yang setara mengenai perjalanan yang dia alami.

Dua puisi diatas merupakan sebagian kecil dari karya-karya Derek Walcott yang menjadi sorotan utama dalam penelitian yang akan saya usung. Selain daripada kumpulan-kumpulan puisi yang dia pernah buat, beberapa kumpulan drama dan juga essay yang ditulis oleh Walcott pun akan menjadi bagian dari objek yang akan saya teliti nantinya. Sebagaimana yang telah menjadi bahan pembahasan dalam beberapa paragraph sebelumnya, masalah yang berkaitan dengan wacana kolonial dan ambivalensi sudah dipastikan akan menjadi topic utama yang akan saya kembangkan dalam penelitian ini. Namun, saya masih mengalami kesulitan dalam mengembangkan dan menambahkan gagasan-gagasan tambahan, seperti censorship atau unhomeliness, untuk membantu penjabaran topik utama yang saya pilih, serta dalam melakukan pendekatan terhadap karya-karya Walcott itu sendiri karena banyaknya jenis karya yang akan saya hadapi—mulai dari puisi hingga essay. Walaupun demikian, setidaknya, saya sudah memiliki gambaran tentang gejala apa yang akan saya cari dan bahas dalam setiap karya yang akan saya temui nanti.



Daftar Pustaka

Adipurwawidjana, Ari J.; Amalia, Lien, and Manggong, Lestari. 2005. “Ambivalensi Naratif dan Transisi Sosial: Lady Chatterley’s Lover dan The Satanic Verses” dalam Kalam (Vol. 22, 2005; hal. 55-79) ed. Supartono, Alex, et al. Indonesia: Yayasan Kalam
Bhabha, Homi K. 1992. “The World and the Home” dalam Social Text (No. 31/32, Third World and Post-Colonial Issues; hal. 141-153). Amerika Serikat: Duke University Press retrieved from http://www.jstor.org/stable/466222
                          1994. “Signs Taken for Wonders: Questions of Ambivalence and authority under a tree outside Delhi, May 1817” dalam The Location of Culture (hal. 102-122). NewYork: Routledge.
Chatman, Seymour. 1993. Reading Narrative Fiction. New York, Amerika Serikat: Macmillan Publishing Company.
Coetzee, J.M. 1996. Giving Offense: Essays on Censorship. United States: The University of Chicago Press
Hirsch, Edward dan Walcott, Derek. 1979. An Interview with Derek Walcott dalam Contemporary Literature (Vol. 20, No. 3; hal. 279-292). Wisconsin: University of Wisconsin Press. 
Kennedy, X. J., dan Gioia, Dana. 2002. An Introduction to Poetry (Edisi ke-10). New York: Longman.
Walcott, Derek. 1962. “As John to Patmos” dan “A City’s Death by Fire” dari “In A Green Night” dalam Derek Walcott: Collected Poems 1948-1984 (1992; hal. 5 & 6). Great Britain: Faber and Faber Limited.



[1] Homi K. Bhabha, The Location of Culture, (New York: Routledge, 1994), 102-122.
[2] Homi K. Bhabha, The Location of Culture, (New York: Routledge, 1994), 102.
[3] Edward Hirsch dan Derek Walcott, An Interview with Derek Walcott dalam Contemporary Literature, Vol. 20, No. 3 (Wisconsin: University of Wisconsin Press, 1979), 279-292.
[4] X.J. Kennedy dan Dana Gioia, An Introduction to Poetry (Edisi ke-10, New York: Longman, 2002).
[5] X.J. Kennedy dan Dana Gioia, An Introduction to Poetry (Edisi ke-10, New York: Longman, 2002), 242.
[6] Derek Walcott, Collected Poems 1948-1984, (Britania Raya: Faber and Faber Limited, 1992), 6.
[7] Derek Walcott, A City’s Death by Fire dalam Collected Poems 1948-1984, (Britania Raya: Faber and Faber Limited, 1992), 6.
[8] Derek Walcott, A City’s Death by Fire dalam Collected Poems 1948-1984, (Britania Raya: Faber and Faber Limited, 1992), 6.
[9] Homi K. Bhabha, The World and the Home dalam Social Text, No. 31/32, (Amerika Serikat: Duke University Press, 1992), 144.
[10] Derek Walcott, Collected Poems 1948-1984, (Britania Raya: Faber and Faber Limited, 1992), 5.
[11] Ari J. Adipurwawidjana, Lien Amalia dan Lestari Manggong, Ambivalensi Naratif dan Transisi Sosial: Lady Chatterley’s Lover dan The Satanic Verses dalam Kalam, Vol. 22 (Indonesia: Yayasan Kalam, 2005), 59.
[12] J. M. Coetzee, Giving Offense: Essays on Censorship, (Amerika Serikat: The University of Chicago Press, 1996). 
[13] Seymour Chatman, Reading Narrative Fiction,(New York: Macmillan Publishing Company, 1993), 130.

No comments:

Post a Comment